Selasa, 24 Mei 2016

Prediksi Einstein Ternyata benar,,, apa itu ???

space adventure


Pecinta Astronomi Indonesia - Selamat malam PAI'ers, jumpa kembali bersama kami. Sejak blog ini ditinggalkan, banyak terjadi sesuatu yang bagus ya, saya selaku salah satu admin akhirnya kembali bisa memposting artikel. here we go !!

Pada 1916, 100 tahun lalu, fisikawan Albert Einstein memprediksi keberadaan gelombang gravitasi dalam teori relativitas umum (General Relativity).

Gelombang gravitasi seumpama suara alam semesta, meski sejatinya ia tak berupa bunyi. Ia adalah riak kecil dalam struktur ruang-waktu -- yang berperan dalam pemuaian alam semesta yang berlangsung lebih cepat dari 'kedipan mata'. 

Para ahli meyakini keberadaannya, mereka terus mencarinya, namun bukti sahih belum juga ditemukan. Hingga kini...

Pada Kamis 11 Februari 2015, ilmuwan internasional dalam program Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) mengaku telah menemukannya.

"Kami telah mendeteksi gelombang gravitasi. Kami berhasil menemukannya," kata David Reitze, direktur eksekutif LIGO, seperti dimuat CNN, Kamis (11/2/2016).
Temuan tersebut berdasarkan riak dalam struktur ruang-waktu yang ditemukan LIGO, yang mendukung teori Einstein. Riak tersebut terdeteksi dari penggabungan dua lubang hitam (black hole).

Reitze mengatakan, salah satu lubang hitam memiliki massa 29 kali Matahari, lainnya setara dengan 36 sang surya. Masing-masih diperkirakan memiliki diameter 150 kilometer.

Keduanya bertubrukan dengan laju setengah kecepatan cahaya. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi 1,3 miliar tahun lalu.

Gelombang gravitasi kemudian melewati apapun, melintasi alam semesta sebelum akhirnya mencapai Bumi.

Lalu, gelombang gravitasi  membentang dan memadatkan ruang sekitar Bumi hingga seperti 'jeli'.

Namun, gelombang tersebut terlalu kecil sehingga membutuhkan detektor seperti LIGO -- yang bisa mengukur distorsi 1/1.000 ukuran sebuah proton -- untuk mengamatinya.

Pada 14 September 2015, para ilmuwan mendengar suara tabrakan lubang hitam sebagai 'kicauan' yang berlangsung selama seperlima detik.

Einstein Pasti Terkejut

Meski memprediksi keberadaan gelombang gravitasi dalam teorinya, Einstein tak pernah mengira itu bakal ditemukan.

"Einstein berpikir, gelombang gravitasi adalah sebuah gagasan yang indah, namun saking kecilnya, (ia mengira) tak ada yang bisa mengukurnya," kata Szabolcs Marka, profesor fisika dari Columbia University.

Sebab, agar terdeteksi, gelombang gravitasi harus tercipta dari peristiwa dahsyat. Misalnya, tabrakan dua lubang hitam.

Black hole adalah pemusatan massa yang luar biasa sehingga menghasilkan gaya gravitasi yang besar.

Sebuah lubang hitam memiliki batas yang disebut dengan cakrawala peristiwa (event horizon).

Apapun yang jatuh dan berada pada daerah cakrawala peristiwa baik itu bintang, gas, atau bahkan cahaya sekalipun  tidak akan mampu lepas atau lari darinya. Lubang hitam menjadi misteri dan daya tarik tak berujung dalam ilmu pengetahuan. Hingga saat ini, manusia hanya bisa menyaksikan dampaknya.

Lubang hitam sendiri masih sekedar terkaan atau dugaan. Dan, penemuan gelombang gravitasi mengonfirmasi eksistensinya. 

Menguak Misteri Alam Semesta

LIGO dideskripsikan sebagai 'sistem yang terdiri atas 2 detektor yang identik'. Salah satu perangkat tersebut berada di Livingston, Louisiana. Lainnya di Hanford, Washington.

"LIGO disusun secara hati-hati untuk mendeteksi getaran sangat kecil dari gelombang gravitasi yang melintas," demikian pernyataan para ilmuwan.

Proyek tersebut dilaksanakan tim gabungan ilmuwan dari Caltech dan MIT, serta didanai National Science Foundation.

Menurut Reitze, yang paling menarik adalah apa yang akan terjadi setelah temuan tersebut. "Saya merasa, kita sedang membuka jendela (untuk menatap) alam semesta -- jendela astronomi gelombang gravitasi"

Dengan temuan tersebut, para ilmuwan tak hanya mempelajari Teori Relativitas Umum Einstein. "Tapi juga menemukan objek yang keberadaannya tak pernah dibayangkan. Kita akan melihat alam semesta, dari sisi yang belum pernah teramati sebeumnya."

Szabolcs Marka mengatakan,  LIGO ibaratnya 'mikrofon kosmik' -- instrumen canggih yang bisa mendeteksi distorsi dalam ruang-waktu, penyusun alam semesta.

Saking akuratnya, ia bisa mendeteksi perubahan seukuran bola kaki yang terjadi di keseluruhan Galaksi Bima Sakti. Penemuan gelombang gravitasi seakan membuka indera lain kita.

"Ketika mendengarkan alam semesta, kita akah mempelajari rahasia lubang hitam -- kelahiran, kematian, penyatuan, dan apa yang mereka telan," kata Marka.

"Tak ada yang pernah menyaksikannya sebelumnya."
Kelak kita tak akan hanya memahami itu semua, secara teoritis, namun bisa menyaksikannya.

Penemuan gelombang gravitasi nantinya akan mengkonfirmasi keberadaan lubang hitam.

"Ini adalah kali pertamanya semesta berbicara pada kita melalui gelombang gravitasi," kata Reitze. "Sebelumnya, kita tuli, tak mampu mendengarnya."
Gelombang gravitasi adalah temuan terpenting dalam ilmu pengetahuan setelah partikel  Higgs Boson -- yang populer dengan istilah 'partikel Tuhan' dan penentuan struktur DNA.

"Gelombang gravitasi memberikan sudut pandang baru untuk melihat Alam Semesta. Kemampuan untuk mendeteksinya berpotensi merevolusi astronomi," kata ilmuwan Stephen Hawking kepada BBC.

"Temuan deteksi pertama dari sistem biner lubang hitam sekaligus pengamatan pertama terkait penyatuan sejumlah black hole." (astro_shfly/liputan6)

Rabu, 01 Januari 2014

8 Fenomena Astronomi Paling Menakjubkan Tahun 2014 Versi PECINTA ASTRONOMI INDONESIA

Ilustrasi Komet Siding Spring melintasi planet Mars

Tahun 2013 akan segera berakhir dan tak lama lagi kita akan memasuki tahun baru 2014 yang juga akan di penuhi dengan fenomena-fenomena astronomi menarik yang tak kalah dengan fenomena astronomi tahun ini.



Dan berikut 8 fenomena astronomi penting di tahun 2014 versi PECINTA ASTRONOMI INDONESIA ,jangan sampai terlewatkan ya.. :D

1.Bintang Terang Regulus Akan Lenyap Untuk Sementara (20 Maret 2014)

Suatu peristiwa langit yang sangat langka diperkirakan akan hadir ketika sebuah asteroid secara singkat akan menyembunyikan salah satu bintang paling terang di langit dari pandangankita.Asteroid yang dimaksud adalah 163 Erigonedan bintang yang akan disembunyikan adalah Regulusdi konstelasi Leo.

Fenomena ini akan terlihat disepanjang jalur yang memiliki lebar 40 mil dari New York City keOswego di Amerika Serikat, dan terus ke barat laut Ontario, Kanada.

Untuk melihat fenomena ini,anda tidak perlu menggunakan teleskop atau teropong (sayang Indonesia ga kebagian).Regulus akan kembali terlihat sekitar 12 detik kemudian (walaupun singkat,tapi ini tetap menjadi fenomena astronomi yang sangat langka).

2. Mars Dan Gerhana Bulan (14-15 April 2014)

Pada tanggal 14 April,Mars akan mendekat ke Bumi pada jarak 57.400.000 mil (92.400.000 km).Ini adalah pendekatan Mars terdekat dengan Bumi sejak 2008 silam.

Sepanjang malam, Mars akan menyerupai bintang yang menyilaukan yang bersinar dengan warnaapikecerahan akan menyamai Siriusbintang yang paling cerah dari semua bintang di langit malam Bumi.Sebagai bonus, pada malam yang sama (sebenarnya dini hari,15 April),Amerika Utara akan menyaksikan gerhana bulan total saat bulan purnama akan tenggelam dalam bayang-bayang bumi. 

3. Gerhana Cincin, (28-29 April 2014) Yang Kemungkinan Hanya Dapat Dilihat Oleh Pinguin

Gerhana Annular (cincin) ini mungkin hanya akan disaksikan oleh Pinguin,pasalnya karena akan terjadi di wilayah tak berpenghuni di Wilkes Land di Antartika. Sebuah gerhana matahari parsial juga akan terlihat di Australia.

4. Hujan Meteor Cerah Dari Jejak Debu Komet (P/209 LINEAR)

Pada hari Sabtu (24 Mei) planet kita diperkirakan akan menyapu sejumlah besar jejak debu yang tertinggal di ruang angkasa oleh komet kecil (dikenal sebagai P/209 LINEAR).Fenomena ini akan menyebabkan "hujan meteor"

5. Supermoon 2014 (10 Agustus 2014)

Pada tanggal 10 Agustus,Bulan akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni sekitar221.765 mil (356.896 km).Pada saat itu, Bulan akan terlihat sangat terang dan besar sehingga di juluki "Supermoon".Fenomena ini akan menyebabkan pasang surut air laut (sangat rendah ke sangat tinggi) selama beberapa hari ke depan.


6. Gerhana Bulan (8 Oktober 2014)

Gerhana ini akan dapat dinikmati di  bagian barat Amerika UtaraKepulauan HawaiiAsia Timur,Selandia Baru ,bagian timur Australia dan Indonesia (akhirnya dapat jatah juga).

7. Pertemuan Mars Dan Komet (19 Oktober 2014)

Mungkin ini fenomena astronomi paling top di tahun 2014 menurut versi astronesia.Semua mata akan mengerah ke planet Mars pada saat Komet C/2013 A1(Siding Spring) yang ditemukan oleh Robert H. McNaught di Australia's Siding Spring Observatory, akan melintas sangat dekat dengan Mars.Komet ini akan sangat dekat dengan Mars yang akan menciptakan hujan meteor yang sangat spektakuler di permukaan Mars.

8.  Gerhana Matahari Parsial (23 Oktober 2014)

Bayangan penumbra bulan akan jatuh lebih banyak di Amerika Utara serta Siberia timur,menghasilkan gerhana matahari parsialGerhana terbesar, dengan lebih dari empat perlima diametermatahari tertutup oleh bulanakan terjadi pada M'Clintock Channel, sebuah lengan dari Samudra Arktik yang memisahkan Pulau Victoria dari Prince of Wales Island di Wilayah NunavutKanada.

Selasa, 12 Maret 2013

Mungkinkah Bumi Menjadi Mars di Masa Depan?

Pecinta Astronomi Indonesia - Ilustrasi di atas menggambarkan Planet Bumi (di kiri) yang tandus seperti Planet Mars saat ini dan Planet Mars (di kanan) yang begitu hijau di masa lalu seperti Planet Bumi saat ini.

Planet Mars merupakan planet keempat dari matahari. Banyak sekali orang menyebutnya dengan Planet Merah dikarenakan Planet ini berwarna kemerah-merahan. Warna merah tersebut berasal dari debu yang banyak diterbangkan oleh angin yang ada pada Planet Mars.

Pada permukaan Planet mars terdapat banyak kawah-kawah dan gunung-gunung yang cukup tinggi dan amat besar. Keseluruhan Planet Mars berupa padang pasir yang cukup tandus dan tertutup oleh debu serta batu-batuan padat yang berwarna merah atau orange.

Atmosfer pada Planet Mars terdiri dari gas karbondioksida dan nitrogen. Di Planet Mars ini tidak ada sedikitpun air, sehingga udaranya sangat panas. Planet Mars telah tandus diperkirakan sejak 600 juta tahun yang lalu.

Mungkinkah Bumi kita menjadi 'kembaran' Mars di masa depan?

Mungkin. Perilaku kita sehari-hari memengaruhi kondisi lingkungan, antara lain perilaku konsumeris dalam menggunakan bahan bakar atau listrik.

“Jika kita tidak yakin bahwa perilaku kita akan membawa dampak lingkungan, maka kemungkinan besar kita tidak akan peduli atau mau ikut menjaga lingkungan, berpartisipasi mendaur ulang barang, atau mematikan lampu yang tidak digunakan,” ujar Janet Swim, profesor psikologi di Penn State.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal American Psychologist ini juga menjelaskan ada faktor-faktor tertentu yang secara langsung meningkatkan kadar karbondioksida di atmosfer, yaitu faktor pertumbuhan populasi, pola konsumsi, dan budaya.

Contohnya, kebiasaan dan pola konsumsi memilih bahan bakar ramah lingkungan, tetap akan mencemari lingkungan jika nyatanya kita tidak mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Contoh lain, orang yang tinggal jauh dari pusat kota memiliki budaya bergantung pada penggunaan kendaraan pribadi. Kedua contoh perilaku dan budaya sehari-hari seperti inilah yang membuat Bumi semakin panas. (astro_shfly/ info astronomy)

Minggu, 13 Januari 2013

Misi ke Mars, Akan Ada Gangguan Tidur Pada Diri Anda


Pecinta Astronomi Indonesia - Misi ruang jangka panjang mungkin berbahaya bagi tidur Anda. Kru simulasi perjalanan Mars sedikit bergerak dan lebih banyak tidur selama proyek 520 hari.

Astronot pada misi-misi panjang pulang dan pergi ke Mars memiliki lebih banyak ancaman dari kebosanan. Gangguan tidur mungkin efek samping yang serius penerbangan panjang ruang angkasa, mengubah dinamika kru dan mempengaruhi kinerja pada tekanan tinggi.

Dalam epik playacting, 6 awak hidup selama 520 hari di dalam kapsul tertutup 550 meter kubik di Moskow.

Sebagai eksperimen, kru melayang dalam gravitasi rendah, bergerak sedikit dan tidur lebih banyak, 4 pria mengalami masalah tidur.

Russian Academy of Sciences merancang proyek “Mars 500” untuk menguji kelayakan mengirim manusia dalam perjalanan pulaang pergi ke Mars.

Simulasi ini realistis. Ruang disegel, pengendali misi siaga 24 jam sehari dengan built-in keterlambatan komunikasi selama bagian dari misi dan kru memiliki pekerjaan tertentu yang harus dilakukan selama transit dan kembali ke Bumi.

"Kalau kita benar-benar ingin pergi ke Mars dan mengirim manusia, maka kita perlu tahu bagaimana mereka mengatasi periode panjang isolasi," kata Mathias Basner, biolog University of Pennsylvania’s Perelman School of Medicine di Philadelphia.

Beberapa bulan eksperimen, awak tampak tidak aktif, tidur lebih banyak dan kurang bergerak. Jam tangan seperti gadget mengukur aktivitas setiap menit bahwa awak menjadi lebih banyak diam dan kurang bergerak selama eksperimen berlangsung.

Meskipun rata-rata kru menjadi lesu, tanggapan tidak seragam. Salah satu awak justru benar-benar kurang tidur dan mengalami masalah dalam tes kewaspadaan. Mungkin masalah yang tampaknya kecil tapi bisa memiliki konsekuensi mematikan.

"Ketika Anda melakukan perilaku berisiko tinggi di ruang angkasa, defisit kinerja mengancam kehidupan," kata Jeffrey Sutton dari National Space Biomedical Research Institute di Houston dan Baylor College of Medicine.(info_astronomi)

Ingin Jadi Astronot? Ikut Latihan Ini


Pecinta Astronomi Indonesia - Sebelum para astronot menjalankan misi luar angkasa, mereka harus menempuh berbagai macam pelatihan. Salah satu dari latihan tersebut, ialah latihan fisik yang melibatkan astronot untuk berada di dalam air.


Dilansir Howitworksdaily, Rabu (9/1/2013), salah satu dari beberapa projek NASA bernama NEEMO. NEEMO merupakan kepanjangan dari NASA Extreme Environment Mission Operations yang mempersiapkan kru astronot dalam kondisi luar angkasa.

Projek ini juga menempatkan kru melalui misi pengujian "analog". Dalam kata lain, projek ini melibatkan misi terestrial simulatif, bagi mereka yang akan meluncur ke luar angkasa. Salah satu pengujian bagi astronot, mereka harus berlatih di bawah air. Selain itu, sebuah misi analog juga membutuhkan astronot untuk duduk dalam sebuah ruang khusus berukuran raksasa (centrifuge).

Astronot akan berputar dalam sebuah ruang khusus dan dilakukan uji fisik serta berbagai tekanan lainnya. Dalam NEEMO, fokus juga akan melibatkan astronot pada kegiatan bawah air untuk mensimulasikan kondisi gravitasi yang kecil.

NASA menggunakan Aquarius Reef Base untuk misi NEEMO tersebut, yang dimiliki NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Amerika Serikat. Astronot akan ditempatkan dalam habibat bawah air, yang terletak 19 meter (62 kaki) di bawah permukaan air.

Astronot akan berada di bawah air untuk beberapa pekan, dengan simulasi latihan seperti bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka juga akan menggunakan peralatan dan bekerja dalam lingkungan simulasi asteroid luar angkasa. (astro_shflyokezone.com)

Sabtu, 12 Januari 2013

Mungkinkah Suara Manusia Terdengar dari Luar Angkasa


Pecinta Astronomi Indonesia - Tim peneliti dari Cambridge University Spaceflight (CUSF) ingin menguji apakah suara dapat terdengar dari luar angkasa. Penelitian ini dilakukan untuk menguji keabsahan teori lama yang menyebutkan bahwa suara tidak dapat didengar dalam ruang hampa. 

Untuk itu, tim peneliti meluncurkan smartphone ke orbit di luar angkasa. Kemudian, mereka akan memutar video yang mengeluarkan bunyi teriakan manusia dalam berbagai cara. 

Ketika video diputar, tim berharap untuk menemukan jawaban atas pertanyaan, apakah atau tidak setiap orang dapat mendegar Anda berteriak di luar angkasa. Edward Cunningham, salah satu peneliti yang terlibat dalam percobaan, menjelaskan alasan di balik penelitian tersebut. 

"Pembenaran di balik ini adalah bahwa suara tidak dapat menempuh perjalanannya di luar angkasa. Dan, ini merupakan sesuatu yang kami katakan di sekolah dan Anda mengujinya di laboratorium," ujar Edward, seperti dikutip Foxnews, Senin (3/12/2012). 

Ia mengatakan, timnya menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar melakukan eksperimen di luar angkasa. "Kami berpikir ini akan menyenangkan untuk mencoba," ungkapnya. 

Menurut CUSF, video yang diputar di luar angkasa tersebut merekam suara teriakan manusia selama 10 detik. Tim peneliti mendapatkan lebih dari 100 video dari seluruh dunia. 

Dari total video yang terkumpul, akan diseleksi dan dipilih 10 video yang paling populer. Video populer top sepuluh tersebut akan digunakan dalam percobaan. Proses seleksi dilakukan melalui pemungutan suara secara online. 

Ketika video tersebut diputar di luar angkasa, maka video tersebut akan dibarengi dengan perekam suara pada perangkat rekam lainnya untuk menangkap jeritan. "Saya pikir kami akan mendengar sesuatu, tetapi saya sedang menunggu apa yang sebenarnya akan kami dengar," jelasnya. [info astronomy]

Senin, 31 Desember 2012

PENJELASAN LENGKAP MENGENAI BINTANG

Pecinta Astronomi Indonesia - Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata). 

Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah: Semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. 

Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya. 

Sejarah Pengamatan 

Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang digunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia, adalah kalender Matahari, mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari. 

Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali ‘bintang-bintang baru’ di langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal. Pada 1584 Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah Matahari-matahari lain, dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti Bumi di dalam orbitnya, ide yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Democritus dan Epicurus. Pada abad berikutnya, ide bahwa bintang adalah Matahari yang jauh mencapai konsensus di antara para astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi pada tata surya, Isaac Newton mengusulkan bahwa bintang-bintang terdistribusi secara merata di seluruh langit, sebuah ide yang berasal dari teolog Richard Bentley. 

Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada bintang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri dari sepasang bintang “tetap” dekat, memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jarak bintang 61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks. 

William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi bintang di langit. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langit berbeda. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel mengulangi pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan hasil yang sama. Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasangan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan berada dalam satu arah garis pandang, melainkan mereka memang secara fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda. 

Radiasi 

Tenaga yang dihasilkan oleh bintang, sebagai hasil samping dari reaksi fusi nuklir, dipancarkan ke luar angkasa sebagai radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi partikel yang dipancarkan bintang dimanifestasikan sebagai angin bintang (yang berwujud sebagai pancaran tetap partikel-partikel bermuatan listrik seperti proton bebas, partikel alpha dan partikel beta yang berasal dari bagian terluar bintang) dan pancaran tetap neutrino yang berasal dari inti bintang. 

Hampir semua informasi yang kita miliki mengenai bintang yang lebih jauh dari Matahari diturunkan dari pengamatan radiasi elektromagnetiknya, yang terentang dari panjang gelombang radio hingga sinar gamma. Namun tidak semua rentang panjang gelombang tersebut dapat diterima oleh teleskop landas Bumi. Hanya gelombang radio dan gelombang cahaya yang dapat diteruskan oleh atmosfer Bumi dan menciptakan ‘jendela radio’ dan ‘jendela optik’. Teleskop-teleskop luar angkasa telah diluncurkan untuk mengamati bintang-bintang pada panjang gelombang lain. 

Banyaknya radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh bintang dipengaruhi terutama oleh luas permukaan, suhu dan komposisi kimia dari bagian luar (fotosfer) bintang tersebut. Pada akhirnya kita dapat menduga kondisi di bagian dalam bintang, karena apa yang terjadi di permukaan pastilah sangat dipengaruhi oleh bagian yang lebih dalam. 

Dengan menelaah spektrum bintang, astronom dapat menentukan temperatur permukaan, gravitasi permukaan, metalisitas, dan kecepatan rotasi dari sebuah bintang. Jika jarak bisa ditentukan, misal dengan metode paralaks, maka luminositas bintang dapat diturunkan. Massa, radius, gravitasi permukaan, dan periode rotasi kemudian dapat diperkirakan dari pemodelan. Massa bintang dapat juga diukur secara langsung untuk bintang-bintang yang berada dalam sistem bintang ganda atau melalui metode mikrolensing. Pada akhirnya astronom dapat memperkirakan umur sebuah bintang dari parameter-parameter di atas. 

Fluks pancaran 

Kuantitas yang pertama kali langsung dapat ditentukan dari pengamatan sebuah bintang adalah fluks pancarannya, yaitu jumlah cahaya atau tenaga yang diterima permukaan kolektor (mata atau teleskop) per satuan luas per satuan waktu. Biasanya dinyatakan dalam satuan watt per cm2 (satuan internasional) atau erg per detik per cm2 (satuan cgs). 

Luminositas

Di dalam astronomi, luminositas adalah jumlah cahaya atau energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang ke segala arah per satuan waktu. Biasanya satuan luminositas dinyatakan dalam watt (satuan internasional), erg per detik (satuan cgs) atau luminositas Matahari. Dengan menganggap bahwa bintang adalah sebuah benda hitam sempurna, maka luminositasnya adalah,
L = 4 \pi R^2 \sigma T_{e}^4
dimana L adalah luminositas, Ïƒ adalah tetapan Stefan-Boltzmann, R adalah jari-jari bintang dan Te adalah temperatur efektif bintang.
Jika jarak bintang dapat diketahui, misalnya dengan menggunakan metode paralaks, luminositas sebuah bintang dapat ditentukan melalui hubungan
E = \frac {L} {4 \pi d^2}
dengan E adalah fluks pancaran, L adalah luminositas dan d adalah jarak bintang ke pengamat.

Magnitudo

Secara tradisi kecerahan bintang dinyatakan dalam satuan magnitudo. Kecerahan bintang yang kita amati, baik menggunakan mata bugil maupun teleskop, dinyatakan oleh magnitudo tampak (m) atau magnitudo semu. Secara tradisi magnitudo semu bintang yang dapat dilihat oleh mata bugil dibagi dari 1 hingga 6, di mana satu ialah bintang paling cerah, dan 6 sebagai bintang paling redup. Terdapat juga kecerahan yang diukur secara mutlak, yang menyatakan kecerahan bintang sebenarnya. Kecerahan ini dikenal sebagai magnitudo mutlak (M), dan terentang antara +26.0 sampai -26.5. Magnitudo adalah besaran lain dalam menyatakan fluks pancaran, yang terhubungkan melalui persamaan,
m = -2,5 \log(E) + konstanta \,\!
di mana m adalah magnitudo semu dan E adalah fluks pancaran.

Satuan Pengukuran

Kebanyakan parameter-parameter bintang dinyatakan dalam satuan SI, tetapi satuan cgs kadang-kadang digunakan (misalnya luminositas dinyatakan dalam satuan erg per detik). Penggunaan satuan cgs lebih bersifat tradisi daripada sebuah konvensi. Seringkali pula massa, luminositas dan jari-jari bintang dinyatakan dalam satuan Matahari, mengingat Matahari adalah bintang yang paling banyak dipelajari dan diketahui parameter-parameter fisisnya. Untuk Matahari, parameter-parameter berikut diketahui:
massa Matahari:M_\bigodot = 1.9891 \times 10^{30} kg
luminositas Matahari:L_\bigodot = 3.827 \times 10^{26} watt
radius Matahari:R_\bigodot = 6.960 \times 10^{8} m
Skala panjang seperti setengah sumbu besar dari sebuah orbit sistem bintang ganda seringkali dinyatakan dalam satuan astronomi (AU = astronomical unit), yaitu jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari.

Klasifikasi

Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi-kimianya. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. Untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine GirlKiss Me". Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.
KelasWarnaSuhu Permukaan °CContoh
OBiru> 25,000Spica
BPutih-Biru11.000 - 25.000Rigel
APutih7.500 - 11.000Sirius
FPutih-Kuning6.000 - 7.500Procyon A
GKuning5.000 - 6.000Matahari
KJingga3.500 - 5.000Arcturus
MMerah<3,500Betelgeuse
Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :
  • 0 Maha maha raksasa
  • I Maharaksasa
  • II Raksasa-raksasa terang
  • III Raksasa
  • IV Sub-raksasa
  • V deret utama (katai)
  • VI sub-katai
  • VII katai putih
Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem pengklasifikasian di atas. Matahari kita misalnya, adalah sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan berukuran sedang.
Diagram Hertzsprung-Russell adalah diagram hubungan antara luminositas dan kelas spektrum (suhu permukaan) bintang. Diagram ini adalah diagram paling penting bagi para astronom dalam usaha mempelajari evolusi bintang.

Penampakan dan Distribusi

Karena jaraknya yang sangat jauh, semua bintang (kecuali Matahari) hanya tampak sebagai titik saja yang berkelap-kelip karena efek turbulensi atmosfer Bumi. Diameter sudut bintang bernilai sangat kecil ketika diamati menggunakan teleskop optik landas Bumi, hingga diperlukan teleskop interferometer untuk dapat memperoleh citranya. Bintang dengan ukuran diameter sudut terbesar setelah Matahari adalah R Doradus, dengan 0,057 detik busur.

Telah lama dikira bahwa kebanyakan bintang berada pada sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Kenyataan ini hanya benar untuk bintang-bintang masif kelas O dan B, dimana 80% populasinya dipercaya berada dalam suatu sistem bintang ganda atau pun multi bintang. Semakin redup bintang, semakin besar kemungkinannya dijumpai sebagai sistem tunggal. Dijumpai hanya 25% populasi katai merah yang berada dalam sebuah sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Karena 85% populasi bintang di galaksi Bimasakti adalah katai merah, maka tampaknya kebanyakan bintang di dalam Bimasakti berada pada sistem bintang tunggal.

Sistem yang lebih besar yang disebut gugus bintang juga dijumpai. Bintang-bintang tidak tersebar secara merata mengisi seluruh ruang alam semesta, tetapi terkelompokkan ke dalam galaksi-galaksi bersama-sama dengan gas antarbintang dan debu. Sebuah galasi tipikal mengandung ratusan miliar bintang, dan terdapat lebih dari 100 miliar galaksi di seluruh alam semesta teramati.

Astronom memperkirakan terdapat 70 sekstiliun (7×1022) bintang di seluruh alam semesta yang teramati. Ini berarti 70 000 000 000 000 000 000 000 bintang, atau 230 miliar kali banyaknya bintang di galaksi Bimasakti yang berjumlah sekitar 300 miliar.

Bintang terdekat dengan Matahari adalah Proxima Centauri, berjarak 39.9 triliun (1012) kilometer, atau 4.2 tahun cahaya. Cahaya dari Proxima Centauri memakan waktu 4.2 tahun untuk mencapai Bumi. Jarak ini adalah jarak antar bintang tipikal di dalam sebuah piringan galaksi. Bintang-bintang dapat berada pada jarak yang lebih dekat satu sama lain di daerah sekitar pusat galasi dan di dalam gugus bola, atau pada jarak yang lebih jauh di halo galaksi.

Karena kerapatan yang rendah di dalam sebuah galaksi, tumbukan antar bintang jarang terjadi. Namun di daerah yang sangat padat seperti di inti sebuah gugus bintang atau lingkungan sekitar pusat galaksi, tumbukan dapat sering terjadi . Tumbukan seperti ini dapat menghasilkan pengembara-pengembara biru yaitu sebuah bintang abnormal hasil penggabungan yang memiliki temperatur permukaan yang lebih tinggi dibandingkan bintang deret utama lainnya di sebuah gugus bintang dengan luminositas yang sama. Istilah pengembara merujuk pada jejak evolusi yang berbeda dengan bintang normal lainnya pada diagram Hertzsprung-Russel.

Terbentuknya Bintang

Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamberyang ada di Bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat awal alam semesta.

Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali Matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.

Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang.

Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama. 

Deret Utama

Bintang menghabiskan sekitar 90% umurnya untuk membakar hidrogen dalam reaksi fusi yang menghasilkan helium dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi di intinya. Pada fase ini bintang dikatakan berada dalam deret utama dan disebut sebagai bintang katai. 

Akhir sebuah bintang

Ketika kandungan hidrogen di teras bintang habis, teras bintang mengecil dan membebaskan banyak panas dan memanaskan lapisan luar bintang. Lapisan luar bintang yang masih banyak hidrogen mengembang dan bertukar warna merah dan disebut bintang raksaksa merah yang dapat mencapai 100 kali ukuran Matahari sebelum membentuk bintang kerdil putih. Sekiranya bintang tersebut berukuran lebih besar dari matahari, bintang tersebut akan membentuk superraksaksa merah. Superraksaksa merah ini kemudiannya membentuk Nova atau Supernova dan kemudiannya membentuk bintang neutron atau Lubang hitam.(wikipedia)
Tahukah Anda?
""